Rabu, 03 April 2013

Inilah 4 Kisah Heroik dari Kolong Jembatan




Inilah 4 Kisah Heroik dari Kolong Jembatan - Kolong jembatan adalah ruang sisa ekses dari pembangunan jembatan. Namun siapa sangka, dari sudut-sudut ruang sisa itu, terkadang malah dimanfaatkan oleh orang lain. Pemanfaatan yang tak pada tempatnya karena keterpaksaan. Namun ada beberapa kisah heroik yang timbul dari ruang sisa itu.

Sekolah Gratis Ibu Kembar

Adalah Sri Rossyati dan Sri Irianingsih, yang sering disapa Rosy dan Rian atau akrab dengan julukan Ibu Kembar, mendirikan sekolah di bawah kolong-kolong jembatan bagi anak-anak tak mampu. Sekolah Darurat Kartini namanya, tak memiliki tempat tetap dan terus berpindah dari satu kolong jembatan ke kolong jembatan lainnya.

Saat didirikan pada tahun 1990, Sekolah Darurat Kartini berlokasi di kolong jembatan Pluit. Karena penggusuran lalu pindah ke kolong jembatan Ancol, kemudian kolong jembatan Penjaringan, Kali Jodo, dan sekarang di pinggiran rel kereta Bandengan, yang ke semuanya berlokasi di Jakarta Utara.

Sekolah Darurat Kartini adalah sekolah yang tidak pernah memungut biaya sepeser pun kepada 621 muridnya sejak 1990. Sekolah ini sudah berdiri selama 22 tahun dan tercatat 6 kali berpindah tempat karena tergusur.

Karena menyalahi UU Nomor 23/2007 tentang Perkeretaapian, yakni bangunan dengan radius 6 meter dari bantaran rel akan ditertibkan jika tidak mempunyai izin, maka Sekolah Darurat Kartini direlokasi. Surat pemindahan lokasi tersebut diterima sejak 2 Juli dengan masa tenggat tanggal 9 September 2012 lalu.

Akhirnya, Sekolah Darurat Kartini mendapatkan donatur untuk membangun gedung sekolah dari Polda Metro Jaya dan PT Sriwijaya Air di Kawasan Pergudangan Jakarta, Kampung Bandan, Ancol. Pembangunan gedung baru diprakarsai oleh Polda Metro Jaya yang didanai oleh PT Sriwijaya Air sekitar Rp 500 juta. Direktur Utama PT Sriwijaya Air, Chandra Lie, mengaku menghormati pengabdian ibu guru kembar itu.

Anjing Selamatkan Bayi

Seekor anjing menyelamatkan seorang bayi di bawah jembatan di Winkongo, dekat Bolgatanga, ibukota Ghana. Sebenarnya, upaya pencarian dilakukan untuk mencari anjing itu, bukan sang bayi.

Saat itu, anjing itu dicemaskan pemiliknya karena tak kunjung pulang saat beranjak malam. Pencarian pun digelar malam itu juga melalui sawah dan hutan. Para pencari mendapati anjing itu di bawah jembatan, melingkarkan diri ke bayi yang baru lahir bertali pusat yang tampaknya dibuang orang tuanya.Demikian seperti dilansir dari Ghana News Agency, 9 Juni 2012 lalu.

Sekolah Gratis di India
Seperti halnya ibu kembar Rossy dan Rian dengan Sekolah Darurat Kartini-nya, di bawah kolong jembatan di Jakarta Utara, pria dari India ini, Rajesh Kumar Sharma (41) juga memiliki sekolah gratis di bawah jembatan di New Delhi India. Demikian seperti dilansir Huffington Post, 12 April 2012.

Sharma, merupakan penjaga toko, yang setiap harinya meluangkan waktu 2 jam untuk mengajar anak-anak di bawah kolong jembatan. Ada sekitar 30 anak-anak yang diajarnya di kelas bawah kolong jembatan itu, beralaskan tanah dan papan tulis yang ditempelkan di tembok fly over.

Dia melakukan ini karena dirinya sendiri pernah putus kuliah saat menginjak tahun ketiga karena kesulitan biaya. Sharma tak ingin pengalaman itu terulang pada anak-anak di bawah kolong jembatan ini. Karena itu dia membuka sekolah gratis yang diajarnya sesuai kurikulum di India.

Sharma bahkan harus membujuk orang tua para anak-anak itu yang rata-rata adalah buruh dan petani yang menginginkan anak-anaknya bekerja untuk menambah pendapatan keluarga.

Mak Tun Penjaga 14 Anjing

Sri Susanti (55) atau yang biasa dipanggil Mak Tun, hidup sebatang kara. Namun dia hidup dengan 14 anjingnya di bawah kolong jembatan kawasan Pusponjolo, Semarang, Jawa Tengah.

Kisah Mak Tun dan anjing berawal dari tahun 2010. Kala itu, dia kesepian karena tak punya saudara kandung atau kerabat. Lalu dia merawat dua anjing sebagai teman. Satu diberi nama Edo (jantan) dan Belang (betina). Semakin lama, anjingnya beranak pinak hingga total berjumlah 20 anjing. Tapi, tak semua bisa bertahan hidup. Hanya tersisa 14 anjing.

Sejak warungnya dirobohkan pada 2010 lalu, Mak Tun jadi tak memiliki penghasilan. Uang yang diperoleh dari memulung tak bisa untuk biaya makan anjing-anjingnya. Karena itu, dia perlu bantuan segera.

Per akhir Maret 2013, berkat bantuan donatur dan organisasi hewan penyayang binatang, Mak Tun dan belasan anjingnya meninggalkan tempat tinggal lamanya di bawah jembatan dekat sungai Banjir Kanal Barat Semarang. Saat ini Mak Tun tinggal yang lebih layak yaitu di sebuah bangunan yang dulunya digunakan untuk toko anjing. sumber

0 komentar:

Posting Komentar

Update Terbaru

Blogger Widget Get This Widget -

Semua Ada di Sekitar Kita